Selasa, 24 Juni 2014

KEKELIRUAN PRABOWO MENDEKATI MASSA ISLAM



Tak bisa dipungkiri bahwa massa Islam yang besar hanya ada di dua organisasi,  Muhammadiyah dan NU. Untuk mendekati NU, Prabowo membuat ASWAJA di Jawa Timur jauh hari sebelum Pileg berlangsung. Namun keliru sudut pandang relatif ASWAJA tidak “nendang”. Lalu berulang kali mendekati NU Struktural melalui endorsement Said Aqil Siradj (Ketua Umum). Di sini, semakin kita lihat Tim Prabowo keliru dalam melihat massa NU. NU Struktural yang berbasis massa hanya Muslimat NU pimpinan Khofifah Indar Parawansa (Juru bicara Jokowi–JK), dan Anshor pimpinan Nusron Wahid, yang baru saja dipecat dari Partai Golkar. Secara kultural dua organisasi ini mencapai 70% Nahdiyin (basis perempuan dan pemuda). NU Struktural tidak punya jalur komando ke Nahdiyin, karena Nahdiyin dikuasai oleh Kiyai-kiyai pemilik pondok pesantren (NU kultural). Lalu secara politis structural, sebagian Nahdiyin di PKB jelas-jelas mendukung Jokowi–JK. Walau kita tahu di kotak suara tanggal 9 Juli 2014 tetap bebas dan rahasia, namun secara kuantitatif suara milik kiyai-kiyai kultural dan struktural melalui Muslimat dan Anshor (Pemuda). Walaupun begitu, Prabowo tetap galang sayap Anshor (Satgas). Banser yang di-claim se-Jawa Timur (padahal tidak seperti itu).
Jadi seringkali Prabowo dapat laporan “ABS” (asal bapak senang), seperti juga di HKTI. Faktanya HKTI Oesman Sapta sekarang mendominasi organisasi ini dan mendukung Jokowi–JK, padahal massa organisasi ini berjumlah besar.
Lalu bagaimana dengan Muhammadiyah yang tergolong lebih terdidik dan rasional? Juga terjadi hal yang sama. Pihak Prabowo lebih mendekati kubu struktural di beberapa daerah, padahal kekuatan utama Muhammadiyah adalah di ustad-ustad di masing-masing daerah. Memang Muhammadiyah Struktural, PP. Muhammadiyah punya jalur komando kepada unit-unit usaha (terbesar rumah sakit dan sekolah). Tapi saat ini untuk tokoh, rata-rata memegang Buya Syafii Maarif, bukan Amin Rais dan juga Din Syamsuddin. Tercatat justru Buya Syafii Maarif pendukung fanatik Jokowi.
Dalam hal pendekatan massa Islam, Jokowi lebih cerdas, karena rasionalitas semua orang pasti lebih menyukai Jokowi–JK. Walaupun demikian, awalnya pihak Prabowo membuat kampanye hitam bahwa JW keturunan Cina, padahal faktanya buyutnya tokoh Islam besar di Solo (Kiyai Abdul Jalal), dan ibunya seorang wanita soleha. Dengan memperlihatkan foto-foto Jokowi saat naik Haji dan Umroh, kampanye hitam tersebut gagal.
Lalu lebih konyol lagi, diisyukan bahwa Jokowi Islam Syiah karena berfoto dengan istri Jalaludin Rahmat – tokoh Syiah di Indonesia yang juga kader PDIP. Ini lebih mudah lagi dipatahkan oleh kubu Jokowi, karena dia lebih abangan dan dikenal oleh publik Solo.
Jadi Prabowo salah strategi dalam menggalang massa Islam, Dapat disimpulkan bahwa Prabowo hanya mampu menjaring Islam rasional kota (non Muhammadiyah) yakni dari PKS dan PBB (Islam kanan), yang secara kuantitatif sangat terbatas jumlahnya. Jadi dapat dipastikan, untuk massa Islam, Jokowi memenangkan 65%, dan Prabowo 35%.
Dengan demikian, secara kuantitatif Jokowi akan memenangkan Pilpres 2014 antara 55% - 60%, karena massa Islam merupakan 90% penduduk Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar